Selamat Datang di website Kesbangpol dan Linmas Kab. Tegal

Berita Terbaru

Pentingnya Wawasan Kebangsaan Di Era Globalisasi

Dipublish tanggal 15 Februari 2018, Dikirim oleh Admin

Di era Globalisasi dewasa ini banyak kalangan cendikiawan yang meramalkan bahwa ada kecenderungan keberlangsungan dan eksistensi Negara Kebangsaan akan mendapatkan tantangan yang cukup serius , sehingga memerlukan perhatian lebih dari semua elemen anak bangsa. Apabila segenap elemen anak bangsa tidak memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini maka ada kemungkinan bahwa Negara Kebangsaan itu akan mengalami kemunduran dan krisis kebangsaan yang kronis sehingga tidak menutup kemungkinan akan mengalami kehancuran . Banyak contoh yang dapat dikemukan di sini misalnya kasus yang terjadi di Negara-negara Balkan yang tercerai berai dan menjadi Negara kecil-kecil dengan identitas negara berdasarkan sentiment Primordial.

Bangsa Indonesia yang merdeka lebih dari tujuh puluh tahun lamanya sebenarnya juga menghadapi krisis kebangsaan yang sangat serius karena persoalan kenegaraan dan kebangsaan tidak terkelola dengan baik sebagaimana yang telah diamanatkan oleh UUD 1945 yaitu untuk mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. Alih-alih untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, elemen anak bangsa agaknya justru sibuk dengan perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa. Para Elite negeri ini tidak bosan-bosannya bertikai untuk memperebutkan kekuasaan dengan menghalalkan semua cara demi meraih kekuasaan sehingga persoalan kenegaraan dan kebangsaan serta kesejahteraan yang seharusnya kita hayati bersama menjadi terdistorsi bahkan terkesan ada pembiaran terhadap berbagai persoalan yang terus mendera negeri ini. Sebagai contoh konflik horizontal yang terjadi setelah adanya Reformasi skalanya makin masif dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Konflik Ambon, Poso, Lampung, Papua, Bima, Sampit , Sampang hanyalah sebagian kecil konflik horizontal yang tidak diselesesaikan dengan tuntas sehingga bila ada letupan kecil saja eskalasi konflik dengan cepat akan membesar.

Sinyalemen John Naisbit bahwa di era Globalisasi tersebut akan muncul suatu kondisi yang Paradoks€ di mana kondisi global diwarnai sikap dan cara berpikir primordial, bahkan akan muncul gerakan “Tribalisme†yaitu suatu gerakan di era global yang berpangkal pada primordial yaitu fanatisme etnis , ras, suku, maupun golongan (Naisbit, 1994). Hal senada juga diutarakan oleh Samuel P Hantington melalui The Clash of Civilization menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan akan terjadinya benturan peradaban (Hantington 1993) dan tidak menutup kemungkinan juga berakibat timbulnya konflik yang bersifat horizontal suatu kondisi yang kini tengah mendera negeri ini.

Sebagai Negara bangsa yang plural, Indonesia tengah berada di pusaran arus Globalisasi yang akan mempengaruhi pola pikir anak bangsa dalam memandang kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam era globalisasi di dalamnya melekat proses transformasi sistem nilai yang tidak akan pernah dapat dibendung dan akan terus berlanjut sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Jakob, 1988). Masalahnya sebagai bangsa saat ini Indonesia tengah mengalami krisis kebangsaan yang cukup serius bahkan kronis yang ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok eklusifisme berdasarkan pada sentiment primordial sehingga pada gilirannya berbagai konflik yang besifat horizontal sering dan cenderung mudah terjadi di seluruh Indonesia. Ditengarai salah satu faktor yang menjadi penyebab timbulnya krisis kebangsaan adalah nilai-nilai yang ada pada Pancasila sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat, Pancasila sekedar formalitas tanpa makna. Dalam konteks ini Pancasila sebagai perekat kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat seharusnya perlu terus ditingkatkan pemahaman dan implementasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat serta pembentukan jati diri sebuah bangsa. Pancasila beserta nilai-nilainya sebagai pandangan ideologi dan hidup bangsa harus terus diamalkan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat , sehingga kita dapat membuat konsep kebangsaan yang tepat untuk masa depan.

Konsep kebangsaan menurut Kohn (1984) dinyatakan sebagai bentuk kemauan bersama untuk hidup sebagai bangsa atau suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada Negara kebangsaan. Paham kebangsaan ini didasarkan pada asumsi bahwa lahirnya suatu Negara bangsa di dunia sebenarnya merupakan hasil tenaga yang hidup dalam sejarah. Bangsa terdiri atas golongan yang beraneka ragam dan tidak terumuskan secara eksak. Pada umumnya bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang membuat berbeda dengan bangsa lain, misalnya persamaan keturunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat istiadat, tradisi dan agama. Akan tetapi ternyata faktor-faktor obyektif sebagaimana di atas tidak satupun yang merupakan unsur hakiki, sehingga unsur terpenting dalam konsep kebangsaan adalah kemauan bersama untuk hidup secara nyata.

Rasa kebangsaan pada hakekatnya merupakan persatuan dan kesatuan secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh melalui sejarah dan aspirasi perjuangan masa lalu serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Oleh karenanya dalam wawasan kebangsaan terkandung adanya tuntutan suatu bangsa untuk mewujudkan jati dirinya sebagai penjelmaan kepribadiannya (Sumandjoko, 1995). Wawasan kebangsaan mengandung pengertian ; cara dalam melihat keberadaan dirinya yang dikaitkan nilai-nilai dan semangat kebangsaan dalam suatu Negara. Dalam dirinya terkandung suatu makna sebagai kemampuan diri untuk merasa bahwa dirinya adalah bagian integral dari bangsa dan Negara di mana dirinya berada. Semakin mereka mengerti dan mendalami nilai-nilai dan semangat yang telah disepakati bersama dalam suatu Negara serta menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat, maka akan semakin kokoh pula keberadaan bangsa dan negaranya.

 

WAWASAN KEBANGSAAN, JATI DIRI BANGSA DAN GLOBALISASI 

Rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan akan tetapi sulit untuk dipahami, akan tetapi ada getaran hati dan resonansi pikiran antar sesama manusia tatkala rasa kebangsaan itu tersentuh dan terpanggil (Mangunwijaya, 1994). Apa yang diungkapkan oleh Mangunwijaya sebagaimana di atas secara obyektif ada kebenarannya bila kita melihat ada sesuatu yang diklaim oleh Negara lain, misalnya klaim kebudayaan oleh Negara tetangga akan menimbulkan gelombang protes dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia secara spontan tanpa adanya rekayasa politik karena rasa kebangsaan tersentuh dan terpanggil.

Kesatuan politik Indonesia ada pada bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah final sebagaimana yang diaamanatkan oleh UUD 1945. Aspirasi politik yang ada disalurkan pada saluran-saluran formal yang terwujud dalam partai-partai politik sejauh tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Demokrasi merupakan sarana yang dipilih agar semua aspirasi politik dan kepentingan dapat ditampung dan disalurkan. Demokrasi merupakan pilihan yang dianggap paling tepat karena berdasarkan kondisi obyektif Indonesia adalah sebuah negara yang majemuk sehingga semokrasi diharapkan akan mampu mengatasi berbagai perbedaan yang ada, Demokrasi tidak hanya diharapkan mampu untuk mempersatukan berbagai komponen bangsa, akan tetapi juga akan memberikan insentif bagi pembangunan bangsa di segala bidang.

Nilai-nilai dasar wawasan kebangsaan yang terwujud dalam persatuan dan kesatuan memiliki enam dimensi manusia yang mendasar (Kemendiknas, 2010);

  1. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagi makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
  2. Tekad bersama berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan bersatu
  3. Cinta tanah air dan bangsa
  4. Demokrasi atau kedaulatan rakyat
  5. Kesetiakawanan sosial
  6. Cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur

Berdasarkan pada asumsi nilai-nilai dasar yang dikemukakan oleh Kemendiknas di atas maka terdapat beberapa makna yang dapat dikemukakan;

1. Kesatuan Politik

Derivasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini juga semakin menunjukan kerancuan derivative, artinya penjabaran secara “das sein†di dalam masyarakat secara obyektif menimbulkan berbagai kerancuan dan nampak dalam derivasi normative yuridis belum menunjukan esensi Negara yang berdasarkan pada Pancasila. Pada kenyataannya kita lebih bersifat Ambigu dan mendekotomikan berbagai persoalan secara hitam putih

Globalisasi tidak mungkin dihentikan dan akan terus menyebar ke seluruh penjuru dunia menjangkau semua sendi-sendi kehidupan masyarakat , termasuk masyarakat Indonesia. Globalisasi bagaikan virus yang terus akan menyebar ke segenap kehidupan masyarakat, masalahnya akankah kita telah siap dengan Globalisasi. Siap tidak siap Globalisasi harus kita terima dan sudah seharusnya kita sikapi sebagai tantangan yang mendorong semangat kebersaman sesama akan bangsa. Adalah Ulrich Beck (1998) yang mengatakan bahwa Globalisasi akan berpengaruh terhadap relasi-relasi antar Negara dan antar bangsa di dunia yang akan mengalami “deteritorialisasiâ€. Konsekuensinya berbagai kejadian yang terjadi di berbagai penjuru dunia akan berpengaruh secara cepat terhadap Negara lain di dunia.

Anthony Giddens (2000) menamakan proses Globalisasi sebagai €œthe runway word. Menurutnya perubahan-perubahan di berbagai bidang khususnya perubahan sosial di suatu Negara akan berpengaruh secara cepat terhadap Negara lain. Hal lain yang pantas kita perhatikan adalah pandangan Kenichi Ohmae (1995) bahwa globalisasi akan membawa kehancuran Negara-negara kebangsaan atau meminjam istilah Rosenau (1990) akan terjadi pegeseran dalam kehidupan kebangsaan, yaitu pergeseran Negara yang berpusat pada Negara kebangsaan kepada dunia yang berpusat majemuk. Bahkan A.M. Hendro Priyono mengatakan bahwa di era Globalisasi Negara-negara yang mengembangkan proses demokrasi akan mendapatkan tantangan yang sangat hebat, terutama terorisme yang menyalahgunakan kesucian agama (2007).

2. Kesatuan Sosial dan Budaya

Kesatuan sosial budaya seharusnya akan memperkaya Indonesia, karena keberagaman ras dan suku bangsa Indonesia demikian banyak sehingga sistem sosial dan budaya yang ada juga sangat beragam. Seharusnya dengan kekayaan budaya yang demikian besar maka Indonesia bisa menjadi Negara yang menarik dari sisi turisme sehingga dapat menjadi salah satu tujuan wisata dunia, meskipun di sisi yang lain keragaman budaya bukannya tanpa resiko yaitu rawan konflik. Akan tetapi kalau kita cerdas mengelolanya maka potensinya justru akan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Konflik budaya yang muncul saat ini menurut Anhar Gonggong lebih disebabkan karena komunikasi budaya yang seharusnya terjalin dengan baik tidak terjadi (rendah). Komunikasi budaya harus terus menerus dibina agar konflik yang terjadi di dalam masyarakat bisa dieliminir bahkan dihindari.

Kebudayaan memiliki peran yang sangat penting dan vital dalam memajukan atau menurunkan kualitas hidup suatu bangsa, untuk itu Indonesia dinilai perlu menerapkan Cross Cultural Fertilization (penyerbukan silang antarbudaya). Pengertian Cross Cultural Fertilization mengacu pada saripati-saripati budaya lokal yang berkualitas dan memiliki nilai dorong kemajuan dapat diserbukan dengan nilai-nilai budaya lain, baik yang terdapat di Indonesia maupun dari manca negara. Diharapkan dengan menerapkan konsep tersebut Indonesia akan memiliki kebudayaan baru yang unggul dan tampil percaya diri menjadi bangsa yang besar dan disegani oleh bangsa-bangsa lain dan yang lebih penting semua anak bangsa akan merasa memilikinya, sehingga pada gilirannya dapat meminimalkan konflik budaya antar sesama anak bangsa.

Indonesia seharusnya perlu belajar dari Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, China atau Korea yang berhasil menjadi bangsa yang maju justru karena berhasil memanfaatkan secara optimal unsur-unsur positif yang terkandung dalam budaya mereka. Sebagai contoh: dalam soal kedisiplinan, masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, artinya masyarakat Jepang dapat seperti sekarang ini karena sangat memperhatikan kebudayaan dalam arti nilai, kreatifitas, kesediaan bekerja dan di dalamnya termasuk menghargai waktu. Hal yang sama juga terjadi di China maupun Korea yang akar budayanya berdasarkan pada ajaran Konfusiusnisme mampu mendorong lajunya pembangunan di dua Negara tersebut (Robert N Bellah).

Agenda