Selamat Datang di website Kesbangpol dan Linmas Kab. Tegal

Berita Terbaru

Jangan Lagi Gunakan Isu SARA di Dunia Maya

Dipublish tanggal 15 Februari 2018, Dikirim oleh Admin

Dengan majunya teknologi saat ini, media sosial yang ada di dunia maya merupakan bagian dari sejarah manusia yang sulit dihindari dan sulit dibendung. Bahkan dalam menghadapi tahun politik 2018 ini, sebagian besar masyarakat masih sering memakai media sosial memenangkan calon pemimpin idamannya.

 

Namun demikian, masyarakat diimbau untuk tidak memanfaatkan media sosial dengan membawa isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang tentunya dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat. Hal tersebut dikatakan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Waryono Abdul Ghafur.

 

“Agar media sosial itu dapat digunakan secara arif, tentunya dibutuhkan kecerdasan dari masyarakat pengguna media sosial itu sendiri. Lalu ketika ada informasi maka kita tidak serta merta menerima pesan informasi tersebut sebelum mengetahu secara jelas asal-usulnya,” ujar Waryon di Jakarta, Selasa (30/1).

 

Dia mengkhawatirkan penggunaan isu SARA di dunia maya  dimainkan oleh kelompok-kelompok yang ingin membuat masyarakat bangsa ini terpecah atau bukan tidak mungkin juga digunakan oleh kelompok radikal dengan membawa nama-agama. Apalagi kalau yang melihat informasi itu adalah orang yang awam.

 

“Ini yang harus kita waspadai. Dalam berbagai kesempatan saya juga sering menyampaikan bahwa kita tidak perlu menggunakan bahasa agama dalam pilkada nanti. Karena bahasa agama itu sangat sensitif dan takutnya bisa salahgunakan oleh kelompok kelompok tertentu atau kelompok radikal untuk memecah belah masyarakat,” katanya.

 

Menurutnya, orang akan mudah tersentuh dan mungkin juga akan sangat emosional ketika agamanya itu merasa dihina, dicaci maki dan sebagainya. Karena dengan pengurangan penggunaan bahasa agama ini juga bagian dari cara untuk memelihara kondisi sosial.

 

“Jadi hindarilah menggunakan bahasa agama, tidak usah memakai dalil macam-macam misalnya mengatakan tidak usah memilih orang yang beda agama dari dalil ini, atau menyebut bahasa agama untuk dialamatkan kepada orang lain yang beda agama, tentunya itu tidak pas,” kata pria kelahiran Cirebon, 10 Oktober 1972 ini.

 

Diakui, selama ini isu SARA paling mudah digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memecah belah masyarakat “Karena memang isu SARA itu yang paling laku. Kalangan elite pun sebenarnya juga paham bahwa kalau sudah pakai isu SARA itu ‘sumbu pendek’nya itu sangat mudah dan enak. Itu sebenarnya yang harus dihindari kalangan elite ini,” ujarnya

 

Padahal, menurutnya, agama pun telah melarang penggunaan isu SARA untuk disampaikan ke masyarakat untuk tujuan memecah belah. Namun, dikarenakan kepentingan yang pragmatis tentunya masyarakat sendiri juga sudah lupa terhadap hal seperti itu.

 

“Jadi bagi saya baik di kalangan elite dan masyarakat harus sama-sama bisa menahan diri. Yang elite jangan memanfaatkan atas nama masyarakat dan yang masyarakat pun juga jangan ikut-ikutan serta merta dengan kalangan elite ini,” ucapnya.

Diperlukan peran pemerintah untuk lebih tegas dalam memperkuat atau mempertegas dalam melakukan penindakan jika isu SARA itu masih muncul baik di dunia maya atau pun di dunia nyata.

 

“Itu penting sekali, pemerintah harus tegas karena regulasinya sudah ada, yang mana hate speech itu harus ditindak lanjuti. Karena kalau orang yang menyebarkan hate speech itu tidak ditindaklanjuti maka orang akan terus memproduksi itu. Regulasi-regulasi yang sudah ada dan sudah dirumuskan itu harus diberlakukan,” ucapnya.

 

Sumber : kesbangpol.kemendagri.go.id

Agenda

Pencarian

Berita Terbaru

Kalendar

Hari ini: 15 November 2018
Minggu| Senin| Selasa| Rabu| Kamis| Jumat| Sabtu|
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Agenda